Travellous
A travel journal by andrei budiman

What People Quotes;
Eropa saya datang bukan karena saya si sombong yang banyak uang, melainkan hanya pria biasa dari kampung biasa yang ingin mengenal dunia karena mimpi - mimpinya dan karena kalimat suci-Nya yang mengatakan :
” Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki - laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku - suku supaya kamu saling kenal mengenal”.
Saya jadi ingat seorang teman yang hobinya ke luar negeri cuma untuk hunting barang bermerek berkelas dunia. Jangan pernah bertanya padanya bagaimana rasanya berjalan jauh sambil memanggul ransel seberat puluhan kilo, pengalaman bermalam di hostel ajaib, atau survival dengan sebungkus mi instan di negara lain. Saya pernah melihat album foto jalan-jalannya. Pose-posenya berlatar hotel bintang lima, sedang berendam di spa atau manikur di salon yang bertarif jutaan rupiah. Orang-orang seperti teman saya itu ke luar negeri untuk membeli barang, bukan membeli pengalaman.
Kalimat terakhir itu bikin saya nangis (bahkan pas ngetik tulisan untuk blog ini saja hidung saya langsung mampet, menahan air mata yang gak bisa berhenti mengalir)
Julls merangkul saya, saya gak mau liat Julls dengan mata basah, demi Tuhan saya merindukan Ibu saya.
(Ibu…saya kangen, semoga Ibu sehat disana….)
Saya menangis dalam diam, Julls menggenggam tangan saya…
“Rei saya gak peduli gimana masa depan kamu, dan seberapa jauh kelak kita terpisah, saya janji kelak suatu saat nanti saya akan mengetuk pintu rumah mu nun jauh disana, saya akan kesana entah sejauh mana kamu nantinya Rei..”
Saya cuma terdiam, saya gak tau musti ngomong apa lagi, hati ini sudah berkecamuk dalam perasaan yang tidak menentu, sampai ketika saya berani membalas genggaman tangannya, barulah saya menatapnya
“Datang lah Julls, Ibu saya pasti akan senang menemui mu”
Julls mengangguk cepat Dallam senyuman nya yang basah oleh air matanya, entah ia ikut menangis karena apa? Mungkin menangis membayangkan masa depan saya yang masih tidak menentu.
“Sudah berlalu tiga jam dari kedatangan. Dada masih saja naik turun ga karuan, gugup!. Akhirnya dengan bijak saya memutuskan untuk duduk diruang tunggu, diam disana, beradaptasi dulu. Memulai bercakap dengan orang sekitar untuk lebih menguasai diri dalam keadaan shock culture. Waktu terus berjalan dari pagi, Siang lalu menuju sore yang kelabu. dan perut saya sekarang lapar…”